Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Cerpen | Ketika Perasaan Tak Pernah Sampai

Avatar photo
×

Cerpen | Ketika Perasaan Tak Pernah Sampai

Sebarkan artikel ini
Reporter: Estrada |  Editor: Redaksi
Yosef Franklin Estrada S.H | Penulis Cerpen

Sejak hari itu, kami menjadi dekat. Duduk bersebelahan di kelas. Pulang bersama.

Tertawa dalam lingkaran pertemanan yang sama.

Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertising!

Nama-nama seperti Arga, Harpan, Cika, Celin, Antik, dan Arce menjadi bagian dari keseharian kami.

Namun di balik semua itu… ada sesuatu yang tumbuh diam-diam dalam diriku.

Aku mulai memperhatikannya lebih dari yang seharusnya.

Cara dia tersenyum.

Cara dia berbicara.

Bahkan hal-hal kecil yang mungkin tak berarti bagi orang lain… menjadi penting bagiku.

Baca Juga :  Pegadaian Area Kupang Salurkan Hewan Kurban ke 7 Cabang, Daging Kurban Dibagikan untuk Kaum Duafa

Aku jatuh cinta.

Diam-diam.

Suatu sore di kos Arga, kami kembali berkumpul seperti biasa.

Tawa memenuhi ruangan. Cerita bersahutan tanpa jeda.

Namun, di tengah keramaian itu, aku melihat sesuatu yang membuatku terdiam.

Tercin duduk di samping Arga.

Mereka tertawa bersama. Dekat. Terlihat nyaman.

Sesekali Arga menepuk pelan pundaknya, dan Tercin tidak menolak.

Dadaku terasa sesak.

“Man, kenapa diam saja?” tanya Harpan.

“Tidak apa-apa,” jawabku singkat.

Padahal, dalam hati aku bertanya,

sejak kapan mereka sedekat itu?

Baca Juga :  Pegadaian Area Kupang Salurkan Hewan Kurban ke 7 Cabang, Daging Kurban Dibagikan untuk Kaum Duafa

Untuk pertama kalinya, kebersamaan ini terasa berbeda.

Hari-hari berlalu, dan aku mulai menyadari satu hal yang menyakitkan.

Aku bukan satu-satunya yang mengagumi Tercin.

Dan mungkin… aku bukan yang paling dia tunggu.

Suatu hari, aku mengajaknya ke perpustakaan.