Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Cerpen | Ketika Perasaan Tak Pernah Sampai

Avatar photo
×

Cerpen | Ketika Perasaan Tak Pernah Sampai

Sebarkan artikel ini
Reporter: Estrada |  Editor: Redaksi
Yosef Franklin Estrada S.H | Penulis Cerpen

Kami duduk berhadapan, masing-masing dengan buku di tangan.

“Kamu pernah jatuh cinta?” tanyaku tiba-tiba.

Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertising!

Dia tersenyum tipis.

“Pernah. Tapi dengan orang yang salah,” jawabnya pelan.

“Dan sekarang… aku sedang berharap.”

“Berharap apa?” tanyaku.

“Berharap dia peka… tanpa aku harus bilang.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Aku ingin percaya bahwa yang dia maksud adalah aku.

Namun di saat yang sama, aku juga takut… bahwa bukan aku orangnya.

Sore itu, aku mengantarnya pulang.

Baca Juga :  Pegadaian Area Kupang Salurkan Hewan Kurban ke 7 Cabang, Daging Kurban Dibagikan untuk Kaum Duafa

Di depan kosnya, kami terdiam cukup lama.

“Ada apa, Man? Kok seperti mau bicara sesuatu?” tanyanya.

Aku menarik napas panjang.

“Iya… aku sebenarnya mau bilang…”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ponselnya berbunyi.

Nama itu muncul di layar.

Arga.

Tercin tersenyum kecil, lalu mengangkat telepon.

“Iya, Ga… aku sudah sampai… iya…”

Aku terdiam.

Kesempatan itu hilang. Dan aku hanya bisa menatapnya… tanpa mampu berkata apa-apa.

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Perasaanku sudah terlalu dalam untuk terus dipendam.

Baca Juga :  Pegadaian Area Kupang Salurkan Hewan Kurban ke 7 Cabang, Daging Kurban Dibagikan untuk Kaum Duafa

Akhirnya, aku memberanikan diri.

“Cin… aku suka sama kamu.”

Pesan itu terkirim. Dan sejak saat itu, waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit.

Hingga akhirnya… balasan itu datang.

“Man… kamu orang baik.”