Kami duduk berhadapan, masing-masing dengan buku di tangan.
“Kamu pernah jatuh cinta?” tanyaku tiba-tiba.
Dia tersenyum tipis.
“Pernah. Tapi dengan orang yang salah,” jawabnya pelan.
“Dan sekarang… aku sedang berharap.”
“Berharap apa?” tanyaku.
“Berharap dia peka… tanpa aku harus bilang.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Aku ingin percaya bahwa yang dia maksud adalah aku.
Namun di saat yang sama, aku juga takut… bahwa bukan aku orangnya.
Sore itu, aku mengantarnya pulang.
Di depan kosnya, kami terdiam cukup lama.
“Ada apa, Man? Kok seperti mau bicara sesuatu?” tanyanya.
Aku menarik napas panjang.
“Iya… aku sebenarnya mau bilang…”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ponselnya berbunyi.
Nama itu muncul di layar.
Arga.
Tercin tersenyum kecil, lalu mengangkat telepon.
“Iya, Ga… aku sudah sampai… iya…”
Aku terdiam.
Kesempatan itu hilang. Dan aku hanya bisa menatapnya… tanpa mampu berkata apa-apa.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Perasaanku sudah terlalu dalam untuk terus dipendam.
Akhirnya, aku memberanikan diri.
“Cin… aku suka sama kamu.”
Pesan itu terkirim. Dan sejak saat itu, waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Hingga akhirnya… balasan itu datang.
“Man… kamu orang baik.”











