Pelatihan bagi relawan ini, diakui dokter Krista bukan keharusan dan tidak ada di juknis, namun ini semata tanggung jawab, untuk menyiapkan relawan, yang umumnya masih anak muda, agar mereka memiliki pemahaman yang baik.
Menurutnya, pendekatan ini penting agar saat dapur mulai beroperasi, seluruh tim bekerja bukan hanya secara profesional, tapi juga dengan nilai-nilai pelayanan sosial yang kuat.
Romo Leo Mali: Ini Investasi Masa Depan Bangsa
Menutup pelatihan, Romo Leo Mali memberikan refleksi mendalam. Baginya, program Dapur Gizi Gratis ini bukan proyek biasa.
Ini adalah gerakan sosial-ekonomi yang menyasar kebutuhan gizi anak-anak, namun sekaligus membangun fondasi karakter, solidaritas, dan kemandirian masyarakat.
“Pelayanan terbaik itu lahir dari hati yang peduli. Ini bukan soal pintar atau asal bisa kerja. Kita sedang siapkan generasi pelayan yang punya motivasi kuat untuk bangsa,” ungkap Romo Leo.
Ia menekankan bahwa keterlibatan anak-anak muda dalam dapur ini harus dilihat sebagai bentuk investasi jangka panjang. Bukan hanya untuk mengurangi pengangguran, tetapi juga untuk membentuk ekosistem ekonomi lokal yang sehat.
“Kita gerakkan ekonomi dari bawah. Petani, nelayan, peternak—mereka bisa menjadi bagian dari rantai pasok dapur ini. Jadi ada manfaat ekonomi nyata yang digerakkan dari semangat pelayanan,” tambahnya.
Dapur MBG Kelapa Lima: Siap dan Layak Beroperasi
Dapur MBG Kelapa Lima yang dikelola oleh Yayasan Cahaya Nun Ben Sufa telah menunjukkan kesiapan menyeluruh, baik dari sisi fasilitas maupun sumber daya manusia.












