Menurutnya, banyak anak muda yang memiliki kemampuan di bidang teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) sehingga perlu didorong menjadi pelaku ekonomi daerah.
Ia menilai potensi pariwisata Flores Timur juga dapat dipadukan dengan pengembangan UMKM.
Kawasan pesisir Larantuka, mulai dari Weri hingga Waibalun, menurutnya layak dikembangkan menjadi sentra ekonomi kreatif melalui kehadiran kafe-kafe kecil dan ruang usaha bagi anak muda.
“Pariwisata religius perlu dipadukan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Anak-anak muda harus menjadi pelaku utama ekonomi daerah,” ujarnya.
Menutup paparannya, Kasmirus mengajak seluruh pemangku adat mengevaluasi tradisi yang berpotensi membebani masyarakat secara ekonomi.
Ia mencontohkan tingginya biaya dalam upacara kematian yang kerap membuat keluarga harus berutang.
Menurutnya, adat tetap harus dihormati, tetapi aspek ekonominya perlu disesuaikan dengan kondisi masyarakat.
“Tradisi harus tetap dihormati, tetapi juga perlu disesuaikan agar tidak menjadi penyebab masyarakat terus terjerat utang dan kemiskinan”.
“Tidak semua nilai budaya berdampak negatif. Nilai-nilai itu justru dapat menjadi kekuatan untuk membangun kelompok usaha bersama, koperasi, dan kegiatan ekonomi produktif. Yang perlu diubah bukan budayanya, melainkan cara mengelola aspek ekonomi dalam budaya tersebut,” pungkasnya.










