Menurut Uskup Agung Kupang, kekuatan utama Kopdit Swasti Sari terletak pada kedekatannya dengan denyut kehidupan umat dan masyarakat kecil di NTT.
Kehadirannya nyata di tengah keluarga-keluarga sederhana, petani, nelayan, pedagang kecil, pegawai, serta keluarga yang sedang berjuang menata masa depan.
Karena itu, ia menegaskan Kopdit Swasti Sari tidak boleh terjebak menjadi institusi keuangan semata. Koperasi ini harus menjadi ruang pembelajaran nilai-nilai kehidupan—disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan solidaritas sosial—yang terus ditumbuhkan di tengah anggota.
“Kopdit Swasti Sari merupakan bagian nyata dari perutusan Gereja di NTT untuk menjaga martabat manusia dan memperjuangkan keadilan sosial. Ini bukan sekadar soal bisnis, tetapi soal keberpihakan pada manusia, terutama mereka yang kecil dan rentan,” ujarnya.
Di tengah laju perubahan zaman yang kian cepat, Uskup Agung Kupang juga menyoroti tantangan serius berupa menguatnya budaya individualisme, pesatnya perkembangan teknologi, serta persaingan lembaga keuangan yang semakin kompleks.

Ia menegaskan bahwa koperasi kredit Swasti Sari harus berani beradaptasi, berinovasi, dan melakukan transformasi pelayanan agar tetap relevan.












