Namun demikian, ia mengingatkan bahwa inovasi dan digitalisasi tidak boleh menggerus nilai-nilai dasar koperasi.
Penguatan manajemen risiko, tata kelola yang transparan dan akuntabel, profesionalisme, serta peningkatan literasi keuangan anggota harus berjalan seiring dengan penghayatan nilai iman dan budaya lokal.
Secara khusus, Mgr. Hironimus Pakenoni mendorong Kopdit Swasti Sari untuk memberi perhatian serius kepada generasi muda, agar koperasi tetap dipandang sebagai ruang yang aman, relevan, dan berdaya di tengah perkembangan teknologi keuangan.
Di usia ke-38 ini, Uskup Agung Kupang berharap Kopdit Swasti Sari semakin matang dalam pengelolaan, semakin profesional dan transparan, serta semakin inklusif dalam melayani seluruh lapisan anggota.
“Jangan pernah lelah melayani yang kecil, menjaga harapan, dan menghadirkan keadilan. Semoga Kopdit Swasti Sari terus menjadi berkat bagi Gereja, masyarakat, dan pembangunan manusia seutuhnya di Nusa Tenggara Timur,” pungkasnya.
Rangkaian peringatan HUT ke-38 Kopdit Swasti Sari digelar dengan berbagai kegiatan sosial mulai dari Penyerahan Dana Perlindungan dan Santunan Swasti Sari (Dapelestari) di kantor maupun melalui skema visit day service, pemeriksaan kesehatan gratis, serta aksi donor darah.












