“Prestasi itu bonus. Yang utama adalah bagaimana apa yang kita kerjakan bisa memberi manfaat bagi banyak orang,” ujarnya.
Semangat kepemimpinan Wilhelmus telah terbentuk sejak masa mahasiswa. Ia aktif dalam organisasi Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), yang membentuk karakter kepemimpinan, kepekaan sosial, serta kemampuan berpikir kritis.
Nilai-nilai inilah yang kemudian terus ia bawa dalam setiap peran yang diembannya.
Memasuki dunia koperasi, Wilhelmus melihat Kopdit Swasti Sari sebagai ruang strategis untuk memperluas pengabdian.
Ia memandang koperasi tidak sekadar lembaga keuangan, tetapi sebagai wadah pemberdayaan anggota.
“Kalau di pendidikan kita membangun manusia, di koperasi kita memperkuat kesejahteraan mereka. Dua hal ini saling melengkapi,” ungkapnya.
Sebagai ketua terpilih, ia membawa pendekatan edukatif dalam kepemimpinannya.
Ia ingin anggota koperasi tidak hanya menjadi pengguna layanan, tetapi juga memahami prinsip-prinsip pengelolaan keuangan yang sehat dan bertanggung jawab.
Menurutnya, salah satu tantangan utama koperasi saat ini adalah membangun kesadaran anggota terhadap disiplin finansial.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kepercayaan dan tanggung jawab dalam setiap aktivitas simpan pinjam.












