Scroll untuk baca artikel
EkonomiOpini

Opini : “Stimulus 200 Triliun: Harapan Baru atau Ancaman Baru bagi Ekonomi Riil?”

Avatar photo
×

Opini : “Stimulus 200 Triliun: Harapan Baru atau Ancaman Baru bagi Ekonomi Riil?”

Sebarkan artikel ini
Reporter: Yohanes Made Supadi |  Editor: Redaksi

Secara keseluruhan, peningkatan produksi, investasi, dan konsumsi akan tercermin dalam kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB), yang menjadi indikator utama pertumbuhan ekonomi.

Resiko Kebijakan Menteri Purbaya

Namun kebijakan ini bukan tanpa risiko. Tanpa pengawasan ketat, bank penerima dana ini mungkin cenderung menyalurkan kredit secara kurang hati-hati karena merasa aman dengan adanya dukungan dana besar dari pemerintah.

Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertising!

Ini bisa mengarah pada pemberian pinjaman kepada debitur yang memiliki risiko tinggi atau tidak layak.

Baca Juga :  Dari Pedalaman Amfoang ke Forum RAT Midi, Albinus Rasakan Hangatnya Keluarga Besar Kopdit Obor Mas

Penyaluran yang tidak tepat sasaran, dana yang seharusnya mengalir ke sektor produktif bisa saja disalahgunakan atau justru disalurkan ke sektor yang tidak strategis seperti penyaluran kredit yang lebih banyak menguntungkan kelompok tertentu atau proyek yang tidak memiliki dampak ekonomi signifikan.

Bank berisiko mengalami peningkatan Non-Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah. Pinjaman yang macet dapat merugikan bank dan mengganggu stabilitas sistem keuangan.

Di sisi lain potensi inflasi, peningkatan jumlah uang yang beredar secara signifikan di masyarakat dapat menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa, yang memicu inflasi jika tidak dikelola dengan baik.

Baca Juga :  Walkout Dari Musyawarah Penetapan Komposisi Pengurus | Anggota Nilai Sason Helan Tak Tepat Kini Persoalkan Struktur Pengurus

Pertanyaan kritisnya adalah melemahnya perekonomian saat ini apakah dipicu oleh likuiditas perbankan ataukah demand kredit yang lesu?