SO’E | BuletinNTT.com — Pencegahan stunting di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) membutuhkan lebih dari sekadar bantuan makanan tambahan atau pelayanan kesehatan rutin.
Persoalan ini juga berkaitan erat dengan pola pengasuhan dalam keluarga, kondisi sosial ekonomi masyarakat, hingga rendahnya keterlibatan ayah dalam mendukung kesehatan ibu dan anak.
Berangkat dari kondisi tersebut, dosen Poltekkes Kemenkes Kupang menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tublopo dengan fokus memperkuat peran ayah dalam upaya pencegahan stunting.
Kegiatan tersebut dipimpin oleh Juni Gressilda Louisa Sine, STP., M.Kes bersama Asweros Umbu Zogara, SKM., MPH dan melibatkan tiga mahasiswa, yakni Marselinus Kowe, Kristin Kase, serta Jened Tusi.
Mengangkat tema “Penguatan Kemandirian Keluarga melalui Peran Ayah dalam Pencegahan Stunting”, kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari masyarakat karena menyentuh langsung kehidupan keluarga di pedesaan TTS yang masih kental dengan budaya patriarki.
Ayah Selama Ini Belum Banyak Dilibatkan
Ketua tim pengabdian masyarakat, Juni Gressilda L. Sine menjelaskan, selama ini program pencegahan stunting lebih banyak menyasar ibu dan anak.
Kegiatan posyandu didominasi kaum ibu, penyuluhan gizi diarahkan kepada perempuan, sementara ayah lebih sering diposisikan sebagai pencari nafkah semata.












