Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Dari Gagal Panen Menjadi Berkat: Kisah Buce dan Harapan Baru Petani Batulesa Bersama Kopdit Swasti Sari

Avatar photo
×

Dari Gagal Panen Menjadi Berkat: Kisah Buce dan Harapan Baru Petani Batulesa Bersama Kopdit Swasti Sari

Sebarkan artikel ini
Reporter: Ben |  Editor: Redaksi
Panen Raya Bawang, Hasil Petani Bawang Batulesa, Sumlili Kabupaten Kupang, Binaan Kopdit Swasti Sari

“Saya tidak bermaksud menyombongkan diri, tapi ini kenyataan. Dulu gagal, sekarang puji Tuhan, panen luar biasa,” ucapnya dengan senyum tulus.

Swasti Sari Tak Hanya Memberi Uang, Tapi Memberi Harapan

Wajah-wajah bahagia para petani bukan hanya karena panen melimpah, tapi karena mereka merasa tidak sendiri.

Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertising!

Mereka punya sandaran: Kopdit Swasti Sari. Wakil General Manager, Kasmirus Kopong, hadir langsung menemani para petani dan menyampaikan pesan kuat.

“Kami hadir bukan saat petani sukses saja. Kami hadir saat mereka gagal. Karena koperasi ini tidak berdiri di atas uang, tapi atas kepercayaan dan kebenaran,” kata Kasmirus di tengah acara.

Baca Juga :  Zet Sony Libing : Perkara KSP Kopdit Swasti Sari Menyangkut Kepengurusan, Bukan Manajemen Operasional Koperasi

Ia menjelaskan bahwa pinjaman yang diberikan kepada petani bukanlah utang biasa. Tapi dianggap sebagai pendapatan di muka — karena koperasi percaya pada hasil kerja keras petani.

Wakil GM Kopdit Swasti Sari, Kasmirus Kopong, Saat Memberikan Sambutan Pada Panen Raya Bawang, di Fatulesa, Sumlili , Kupang Barat (13/09/2025)

“Kalau mereka belum panen bawang, belum jual sapi, belum jual padi, kami tetap percaya. Nanti, saat panen tiba, mereka akan kembalikan. Itu namanya grace period,” ujarnya.

Batu Lesa atau Batu Esa : Sebuah Filosofi 

Dalam perbincangan hangat bersama para kepala dusun dan tokoh masyarakat, muncul diskusi menarik soal nama tempat: Batu Lesa, yang kemudian dikoreksi menjadi Batu Esa — artinya batu tunggal atau batu penjuru.