Bagi Kasmirus, ini bukan sekadar nama.
“Batu yang dibuang tukang bangunan, justru jadi batu penjuru. Sama seperti petani. Sering dianggap kecil, tapi sebenarnya mereka fondasi ekonomi kita,” jelasnya.
Simbol “Batu Esa” kemudian menjadi landasan nilai yang diusung oleh Swasti Sari: bahwa koperasi bukan menyatukan orang karena uang, tetapi karena kebenaran dan nilai hidup bersama.
“Kalau karena uang, hari ini kumpul, besok bisa bubar. Tapi kalau karena nilai, karena Tuhan yang satu, kita akan bertahan bersama,” tegasnya.

Menurut Kasmirus, ditempat lain seperti bank, juga koperasi merah putih juga ada uang, namun karena nilai di kopdit Swasti Sari, maka kita bersama.
Rumah Bagi Mereka yang Tak Punya Kantor
Acara Panen Raya ini dihadiri juga oleh Ketua Pokja IV TP PKK Provinsi NTT, mewakili Ny. Asti Laka Lena, serta Ketua Literasi NTT, Polikarpus Do’o yang memberikan edukasi keuangan bagi petani.
Kasmirus menitipkan pesan agar semangat para petani Batulesa ini dapat disampaikan kepada Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, dan Ketua TP-PKK NTT, Ny. Asti Laka Lena.










