Total aset koperasi kini mencapai Rp1.248.848.273.570 atau menembus Rp1,24 triliun.
Capaian ini menempatkan Swasti Sari sebagai salah satu koperasi dengan skala aset terbesar di Nusa Tenggara Timur.
Pertumbuhan aset yang signifikan tersebut menunjukkan ekspansi usaha yang tetap terjaga dalam koridor kehati-hatian.
Manajemen menilai, peningkatan aset tidak hanya mencerminkan pertumbuhan bisnis, tetapi juga efektivitas pengelolaan portofolio pembiayaan dan likuiditas.
SHU Capai Rp15,8 Miliar
Sisa Hasil Usaha (SHU) Tahun Buku 2025 tercatat sebesar Rp15.848.615.863. SHU ini menjadi indikator langsung dari kinerja operasional koperasi sekaligus akan dibagikan kepada anggota sesuai ketentuan yang berlaku.
Bagi anggota, SHU bukan sekadar angka, tetapi cerminan partisipasi ekonomi yang memberi manfaat nyata.
“SHU adalah wujud nyata dari kebersamaan. Semakin aktif anggota bertransaksi dan berpartisipasi, semakin besar pula manfaat yang dirasakan bersama,” jelas Lambert.
NPL Terjaga di Level 1,50 Persen
Salah satu indikator paling krusial dalam industri keuangan adalah tingkat kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL).
Hingga akhir 2025, tingkat kredit lalai Swasti Sari berhasil ditekan di angka 1,50 persen.












