Selain itu, wisatawan juga diperkenalkan dengan proses tradisional pembakaran daging babi (se’i). Menurut Yohanes, daya tariknya bukan semata pada makanan, melainkan pada proses tradisional yang unik dan bernilai budaya tinggi.
“Mereka mencari pengalaman baru yang berbeda dari Bali. Di Timor, yang mahal itu adalah pengalaman dan cerita lokal yang nanti akan mereka bawa pulang ke negaranya,” jelasnya.

Kedua, destinasi Lasiana dan sekitarnya. Di sini, wisatawan akan menyaksikan langsung proses masyarakat memanjat pohon lontar untuk mengambil tuak serta melihat pembuatan gula lontar secara tradisional.
Edukasi tentang manfaat pohon lontar dari akar hingga daun menjadi pengalaman menarik yang jarang ditemui di negara asal para tamu.
Ketiga, kunjungan ke Belo untuk menyaksikan pertunjukan musik tradisional sesando, alat musik khas Rote yang mendunia. Wisatawan juga akan melihat proses pembuatan sesando serta penampilan lagu-lagu daerah, nasional hingga internasional.
Selain itu, Museum Provinsi NTT dan Dekranasda turut menjadi bagian dari paket tur, sebagai ruang promosi produk UMKM dan miniatur kekayaan budaya 22 kabupaten/kota di NTT.
Dampak Ekonomi Lokal
Kunjungan kapal pesiar ini turut memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. Untuk penyambutan tamu saja, pengadaan selendang mencapai sekitar Rp27 juta.












