KUPANG | BuletinNTT.com – Program pengembangan ekonomi lokal melalui NTT Mart mendapat dukungan dari Komisi III DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Wakil Ketua Komisi III DPRD NTT, Kristoforus Loko, Senin (16/03/2026, menilai program Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma memperkuat ekonomi daerah.
NTT Mart menurut Kristo Loko, terintegrasi dengan konsep One Village One Product (OVOP), One Community One Product (OCOP), dan One School One Product (OSOP).
Menurut politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN) itu, integrasi antara OVOP, OCOP, OSOP dan NTT Mart menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun ekosistem ekonomi.
Ekosistem ekonomi ini berbasis potensi lokal yang dimulai dari desa, komunitas hingga lembaga pendidikan.
“Program OSOP, OCOP dan OVOP menunjukkan upaya serius pemerintah mendorong masyarakat di setiap desa, komunitas, maupun sekolah mengembangkan potensi lokal yang dimiliki daerahnya,” kata Kristo Loko.
Ia menjelaskan, konsep tersebut pada dasarnya mendorong setiap desa, komunitas dan sekolah untuk memiliki produk unggulan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Produk-produk tersebut nantinya akan dipromosikan dan dipasarkan melalui NTT Mart sebagai salah satu pusat pemasaran produk unggulan daerah.
Menurut Kristo Loko, keberadaan NTT Mart bukan sekadar toko atau pusat penjualan biasa, tetapi menjadi ruang promosi bagi produk-produk lokal yang dihasilkan masyarakat NTT.
“NTT Mart ini menjadi wadah mempromosikan produk-produk lokal yang sudah memiliki nilai tambah ekonomi, seperti kain tenun, olahan pisang, olahan ubi kayu, kopi, dan berbagai produk UMKM lainnya,” ujarnya.
Ia mengatakan, langkah pemerintah daerah membangun NTT Mart juga bertujuan memberikan rasa percaya diri kepada para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di NTT bahwa produk yang mereka hasilkan memiliki ruang untuk dipasarkan secara lebih luas.
Dengan adanya wadah pemasaran tersebut, para pelaku UMKM diharapkan tidak lagi kesulitan dalam mencari pasar bagi produk yang mereka hasilkan.
Lebih jauh, Kristo menilai bahwa program OVOP OCOP dan OSOP memiliki keterkaitan erat dengan upaya pemerintah dalam mendorong hilirisasi produk lokal.
Menurutnya, selama ini salah satu persoalan utama dalam perekonomian NTT adalah banyaknya komoditas lokal yang dijual dalam bentuk mentah ke luar daerah.
“Selama ini kita menjual banyak komoditas dalam bentuk bahan mentah ke luar daerah seperti ke Jawa atau Bali. Misalnya pisang, kelapa, kopi dan berbagai hasil pertanian lainnya,” jelasnya.
Kondisi tersebut, kata dia, membuat nilai ekonomi komoditas lokal menjadi rendah karena sebagian besar nilai tambah justru dinikmati oleh daerah lain yang melakukan pengolahan lanjutan.
Akibatnya, posisi tawar petani dan pelaku usaha lokal dari NTT menjadi lemah di pasar.
“Kalau kita menjual bahan mentah seperti pisang atau kelapa, tentu harganya rendah dan posisi tawar petani kita juga menjadi lemah,” ujarnya.












