“Kami punya lahan yang luas. Untuk menanam anggur dalam jumlah banyak pun kami bisa,” katanya.
Selain ketersediaan lahan, budidaya anggur diproyeksikan menjadi alternatif untuk meningkatkan PAD sekolah.
Frida menjelaskan, sumber pendapatan sekolah saat ini antara lain berasal dari kantin yang pengelolaannya masih sederhana.
Menurutnya, kantin tersebut dibangun di atas lahan hibah sehingga pihak sekolah tidak ingin membebani pemberi hibah.
“Kantin ini seadanya karena tanahnya merupakan hibah. Jadi, berapa yang diberikan, itu yang kami terima,” jelasnya.
Namun, pendapatan dari kantin dinilai belum mampu menutupi kebutuhan peningkatan PAD sekolah.
Kondisi tersebut mendorong pihak sekolah mencari sumber pendapatan melalui kegiatan produktif yang dapat dikelola bersama.
“Saya berpikir, kenapa kita tidak menanam sesuatu yang bisa menghasilkan uang untuk membantu meningkatkan PAD,” ujar Frida.

Untuk merealisasikan program tersebut, sekolah juga mendapat dukungan dari orang tua salah satu siswa.
Orang tua siswa tersebut diketahui memiliki kebun anggur dan bersedia membantu menyediakan bibit bagi SMA Negeri 3 Atambua.












