Tidak hanya bibit, pihak tersebut juga bersedia mendampingi sekolah dalam proses penanaman dan perawatan tanaman anggur.
“Dia siap membantu kami dengan bibit. Cara menanam dan merawat juga siap didampingi,” kata Frida.
Dukungan tersebut membuat pihak sekolah semakin yakin menjalankan program budidaya anggur di lingkungan sekolah.
Frida mengatakan pihak sekolah juga telah mempertimbangkan aspek pemasaran apabila budidaya anggur menghasilkan produksi sesuai harapan.
Sekolah berencana menjalin kerja sama dengan pusat perbelanjaan maupun pelaku UMKM di Atambua.
“Kalau hasilnya bagus, pasti kami akan bekerja sama dengan mal atau UMKM yang ada untuk memasarkannya,” jelasnya.
Menurut Frida, anggur memiliki nilai ekonomi karena harga jualnya relatif menarik dibandingkan sejumlah komoditas buah lainnya.
Ia juga menilai tanaman anggur dapat dikembangkan dalam kondisi musim panas maupun musim hujan dengan pengelolaan yang tepat.
“Anggur mau musim hujan atau musim panas tetap bisa hidup,” katanya.
Sekolah menargetkan budidaya tersebut mampu menghasilkan PAD sekitar Rp1 juta dalam satu tahun.
Frida menyebut target tersebut memang sederhana, tetapi diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan sekolah secara mandiri.












