Prof. Puji menjelaskan, Pembelajaran Mendalam yang diatur melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 bukanlah kurikulum baru.
Pendekatan tersebut menempatkan pembelajaran sebagai proses yang meaningful, mindful, dan joyful, melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga.
Pembelajaran Mendalam diarahkan untuk mencapai delapan dimensi profil lulusan, termasuk keimanan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.
“Pada pendidikan anak usia dini, Deep Learning justru paling dekat dengan hakikat anak,” ujar Prof. Puji.
Menurutnya, anak belajar melalui proses menjelajah, mengamati, bertanya, menemukan, dan bermain dalam lingkungan yang mendukung.
“Tugas guru bukan mempercepat, melainkan memberi ruang agar proses itu terjadi dengan utuh,” katanya.
Prof. Puji mencontohkan pembelajaran melalui tanaman di lingkungan sekitar yang dikembangkan menjadi proyek pertumbuhan tanaman bersama anak.
Tanaman obat keluarga juga dapat dikembangkan menjadi proyek sederhana, seperti membuat jamu tradisional atau minyak obat bersama anak.
Melalui kegiatan tersebut, anak memperoleh tiga pengalaman belajar sekaligus, yakni memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan.












