“Semua itu dimulai dari literasi. Anak-anak membaca, mencari informasi, mengunduh referensi, mempelajari tulisan orang lain, lalu mempraktikkannya. Inilah real literasi,” jelasnya.

Ia menekankan, proses tersebut tidak selalu berjalan mulus. Kegagalan justru menjadi bagian penting dalam pembelajaran.
“Dalam praktik pasti ada gagal. Kemasan rusak, rasa tidak sesuai, desain belum menarik. Tetapi mereka belajar untuk mencoba lagi. Di situlah mental tangguh dibangun,” tegas Rofinus.
Belajar Nilai Ekonomi Sejak Dini
Tidak berhenti pada proses produksi, siswa juga dilatih memahami bagaimana sebuah karya memiliki nilai ekonomi.
Mulai dari membuat logo, menentukan identitas produk, memperbaiki kemasan, hingga mempelajari teknik pemasaran sederhana, semuanya menjadi bagian dari siklus pembelajaran OSOP.
“Ini bukan memindahkan sistem tata niaga ekonomi ke sekolah. Bukan itu tujuannya. Tujuannya adalah melatih cara berpikir dan pendewasaan siswa agar siap menghadapi kehidupan nyata,” ujarnya.
Ia membedakan OSOP dengan konsep One Village One Product yang berorientasi bisnis murni.












