OSOP, menurutnya, lebih menekankan pada pembentukan metodologi berpikir dan pengalaman praktis siswa.
“Yang dibangun adalah pola pikir. Dari ide, perencanaan, produksi, sampai bagaimana menghasilkan nilai dari karya itu. Itu siklus pembelajaran yang jarang dilatih dalam sekolah formal,” katanya.
Alternatif Keterampilan Hidup
Rofinus menilai, OSOP menjadi sangat relevan karena tidak semua lulusan SMA melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Melalui OSOP, siswa memiliki alternatif keterampilan hidup. Mereka memahami bahwa kreativitas dan ketekunan bisa menghasilkan nilai.
“Minimal mereka punya pengalaman nyata menghasilkan sesuatu. Mereka tahu prosesnya. Itu akan menjadi bekal hidup,” jelasnya.
Produk Tidak Harus Barang Fisik
Lebih lanjut, Rofinus menegaskan bahwa OSOP tidak terbatas pada produk fisik.
Karya tulis, puisi yang dibukukan, berita yang dipublikasikan, konten digital, hingga jasa desain grafis bagi siswa SMK juga termasuk dalam kategori produk OSOP.
“Literasi itu bagian dari OSOP. Anak menulis puisi lalu dibukukan dan dijual, itu OSOP. Anak menulis berita yang punya nilai dan dipublikasikan, itu juga OSOP. Jasa desain pun termasuk,” ujarnya.
Menurutnya, OSOP justru memperluas makna literasi menjadi praktik nyata yang bernilai guna dan bernilai ekonomi.












