Flores Timur| BuletinNTT.com – Program One School One Product (OSOP) ditegaskan bukan sekadar mendorong siswa menghasilkan produk untuk dipasarkan, melainkan menjadi ruang pembelajaran utuh yang membentuk karakter, ketahanan mental, kreativitas, serta pola pikir kewirausahaan peserta didik.
Hal itu disampaikan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 4 Provinsi NTT (Lembata, Flores Timur, dan Sikka), Rofinus Laga Lamawato, Minggu (08/02/2026).
Menurutnya, banyak pihak keliru memahami OSOP hanya sebatas aktivitas produksi di sekolah. Padahal, esensi utama program ini adalah proses pembelajaran yang membentuk kepribadian siswa secara menyeluruh.
“OSOP itu bukan soal produknya. Produk itu urusan berikut. Yang utama adalah bagaimana siswa belajar membuat sesuatu, gagal, lalu mencoba lagi. Dari situ karakter dibentuk,” ujarnya.
Dimulai dari Mimpi dan Visi
Rofinus menjelaskan, siklus OSOP dimulai dari mimpi besar siswa. Mereka diajak menentukan visi: apa yang ingin mereka buat, apa yang ingin mereka hasilkan, dan bagaimana karya itu bisa diwujudkan.
Dari visi tersebut, siswa belajar menyusun perencanaan. Mereka dilatih berpikir sistematis—mulai dari mencari referensi, membaca literatur, mempelajari teknik pembuatan, hingga memahami kebutuhan pasar sederhana.












