Scroll untuk baca artikel
Opini

Opini : Dunia Hukum Bertemu Dunia Air Mata – “Molo si Ine, Tau si Ame Bupati”

Avatar photo
×

Opini : Dunia Hukum Bertemu Dunia Air Mata – “Molo si Ine, Tau si Ame Bupati”

Sebarkan artikel ini
Reporter: Agung |  Editor: Redaksi
Foto | Ilustrasi

Ine, cukup sudah berteriak. Kadang cara terbaik agar langit mendengar bukan dengan suara yang keras, melainkan dengan hati yang tetap tabah dalam diam. Air mata tidak selalu berarti kalah. Kadang ia adalah bahasa paling jujur dari manusia yang sedang belajar ikhlas.

Doakan saja Ine, semoga Tuhan membuka jalan baru. Semoga sisa umur dijalani dengan hati yang lebih kuat. Sebab rumah bisa hilang, tetapi martabat manusia jangan sampai ikut runtuh.

Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertising!

Untuk Bapak Bupati, _”Tau si Ame”_. Lanjutkan Bapak. Kalau penertiban aset daerah ini memang bagian dari upaya menyelamatkan milik rakyat dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), maka lanjutkanlah.

Baca Juga :  Agus Nahak Perjuangkan Listrik Desa, 803 KK di 19 Desa Malaka Masuk Proses Validasi BPBL

Pemerintah memang tidak boleh kalah oleh ketidakteraturan. Negara harus berdiri di atas aturan, bukan belas kasihan semata.

Tetapi ingatlah Ame Bupati, ukuran keberhasilan pemerintah bukan hanya berapa aset yang berhasil ditertibkan. Ukurannya juga adalah berapa banyak air mata rakyat yang berhasil diusap.

Tanah 75 meter persegi itu mungkin kecil di atas peta birokrasi. Tetapi bagi rakyat kecil, di situlah hidup bertumbuh. Di situlah anak-anak dibesarkan.

Di situlah orang tua menunggu hari tuanya. Karena itu, bila penertiban ini mau dijadikan contoh, maka jadikan pula sebagai contoh bagaimana negara hadir dengan wajah manusiawi.