Ine, cukup sudah berteriak. Kadang cara terbaik agar langit mendengar bukan dengan suara yang keras, melainkan dengan hati yang tetap tabah dalam diam. Air mata tidak selalu berarti kalah. Kadang ia adalah bahasa paling jujur dari manusia yang sedang belajar ikhlas.
Doakan saja Ine, semoga Tuhan membuka jalan baru. Semoga sisa umur dijalani dengan hati yang lebih kuat. Sebab rumah bisa hilang, tetapi martabat manusia jangan sampai ikut runtuh.
Untuk Bapak Bupati, _”Tau si Ame”_. Lanjutkan Bapak. Kalau penertiban aset daerah ini memang bagian dari upaya menyelamatkan milik rakyat dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), maka lanjutkanlah.
Pemerintah memang tidak boleh kalah oleh ketidakteraturan. Negara harus berdiri di atas aturan, bukan belas kasihan semata.
Tetapi ingatlah Ame Bupati, ukuran keberhasilan pemerintah bukan hanya berapa aset yang berhasil ditertibkan. Ukurannya juga adalah berapa banyak air mata rakyat yang berhasil diusap.
Tanah 75 meter persegi itu mungkin kecil di atas peta birokrasi. Tetapi bagi rakyat kecil, di situlah hidup bertumbuh. Di situlah anak-anak dibesarkan.
Di situlah orang tua menunggu hari tuanya. Karena itu, bila penertiban ini mau dijadikan contoh, maka jadikan pula sebagai contoh bagaimana negara hadir dengan wajah manusiawi.










