Ia menegaskan, dapur ini hanya akan hidup jika ada kerelaan hati para relawan yang setia memasak, menyajikan, dan membagikan makanan dengan cinta.
Belajar Sabar dalam Pelayanan
Menurutnya, pelayanan ini sekaligus merupakan sekolah kasih, dimana Dapur dijadikan sebagai tempat belajar sabar, belajar ikhlas, dan menemukan sukacita bukan dari apa yang diterima, melainkan dari apa yang diberikan.
Romo Leo kemudian mengajak relawan menyalakan tiga semangat dasar:
Semangat Pelayanan; bekerja bukan hanya sekadar mengenyangkan perut, tetapi menghadirkan wajah Kristus yang penuh cinta.
Semangat Solidaritas; menyadari bahwa semua adalah saudara dalam Kristus; yang miskin dan yang melayani adalah satu keluarga iman.
Semangat Harapan; setiap makanan yang dibagikan menjadi tanda ilmiah sekaligus teologis bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Menutup khotbahnya, Romo Leo menekankan agar dapur ini menjadi “tempat doa yang hidup”, di mana setiap masakan dimasak dengan cinta, setiap makanan dibagikan dengan senyuman, dan setiap pelayanan dijalani dengan penuh harapan.












