Hal yang sama juga diungkapkan, Agustinus Nahak, yang menilai dapur MBG Kelapa Lima, Kota Kupang sangat layak dijadikan contoh.
“Kita liat dari alur, kondisi ruang penyimpanan, dapur ini contoh untuk yang lain” Tegas politisi Golkar ini.
Relawan Dibekali Sebelum Dapur Beroperasi
Ketua Yayasan Cahaya Nun Baun Sufa, dr. Consita Sulaiman, selaku pengelola Dapur MBG, menjelaskan bahwa seluruh proses penyediaan makanan dilakukan secara profesional dan steril.
Petugas dapur tidak hanya dibekali kemampuan teknis, tetapi juga dibina secara mental dan spiritual.
“Kami bekali petugas bukan hanya secara teknis, tapi juga dari aspek moralitas dan kerohanian”.
Mereka melihat pekerjaan ini bukan hanya untuk dapat gaji, tapi sebagai panggilan dan bentuk pelayanan,” tegas dr. Consita.
Ia menambahkan, meski belum beroperasi seluruh bahan makanan akan diproses melalui standar kebersihan yang ketat.
Mulai dari bahan makanan datang, pemisahan bahan mentah dan matang, pencucian, penyimpanan, hingga proses memasak dilakukan secara terstruktur dan higienis.
“Alur produksi sudah jelas, nanti bahan datang, dipisah, dicuci, disimpan, lalu diproses oleh tim produksi yang bekerja sama dengan PIC,” tambahnya.
Dapur MBG Kelapa lima juga memberikan dampak sosial berupa penyerapan 50 tenaga kerja lokal, serta edukasi gizi kepada masyarakat. Program ini dinilai memberi nilai tambah dan dapat memperkuat ketahanan pangan lokal.












