KUPANG, BuletinNTT.com – Program One School One Product (OSOP) dinilai bukan sekadar mendorong sekolah menghasilkan produk, tetapi menjadi sarana strategis membangun pola pikir mandiri, kreativitas, dan kesiapan hidup siswa setelah tamat sekolah.
Hal tersebut disampaikan Wakil General Manager Kopdit Swasti Sari, Kasmirus Kopong, yang menegaskan bahwa OSOP harus dimaknai sebagai bagian dari pendidikan kehidupan nyata di tengah persaingan yang semakin kompetitif.
“Sekolah tidak hanya menyiapkan ijazah tertulis, tetapi juga ‘ijazah tidak tertulis’, yakni cara berpikir, kreativitas, inovasi, dan kemandirian siswa,” ujarnya, Selasa (10/02/2026).

Menurut Kasmirus, OSOP sejalan dengan kebutuhan zaman, di mana generasi muda dituntut mampu hidup mandiri, berkarya, dan membuka akses ekonomi bagi dirinya sendiri, bahkan memberi manfaat bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Peran Strategis Koperasi Kredit
Dalam konteks OSOP, koperasi kredit memiliki peran penting sebagai mitra pendidikan ekonomi di sekolah. Kasmirus menjelaskan, koperasi kredit dapat berfungsi sebagai:
1. Pengelola modal, melalui simpanan siswa dan dukungan sekolah.












