Sambil memilih kebutuhan yang akan dibawa pulang, Srisuryati mengaku cukup terbantu dengan harga yang ditawarkan dalam bazar.
Ia membandingkan harga minyak goreng yang biasa ditemuinya di pasar dengan harga dalam kegiatan tersebut.
“Minyak goreng di pasar Rp20.000, kalau di sini cuma Rp10.500. Jadi masih di bawah harga pasar. Kami sangat terbantu dengan pasar murah begini,” ujar Srisuryati.

Hari itu, beberapa kebutuhan dapur menjadi pilihannya. Telur, minyak goreng, bawang merah dan minyak tanah masuk dalam daftar belanjanya.
Bagi seorang ibu rumah tangga, selisih harga beberapa ribu rupiah untuk setiap kebutuhan tentu cukup berarti ketika harus memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Karena itu, Srisuryati berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.
“Mudah-mudahan ini bisa berjalan terus supaya meringankan beban kebutuhan saya,” katanya.
Ia bahkan berharap bazar murah dapat digelar secara berkala, misalnya beberapa bulan sekali, sehingga anggota memiliki kesempatan untuk mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih bersahabat.
Bukan Sekadar Bazar
Bagi Kopdit Swasti Sari, kegiatan ini tidak semata-mata menjadi aktivitas perdagangan.










