Ahmad Yohan juga menekankan bahwa reuni tidak boleh menjadi ajang konflik atau saling menyalahkan. Sebaliknya, acara ini harus memperkuat persaudaraan.
“Reuni harus menjadi momentum meneguhkan persaudaraan kita. Jangan sampai pertemuan ini justru memperuncing perbedaan” katanya.
Selain itu, Ahmad Yohan menegaskan identitas Lamakera bersifat kultural dan genealogis, bukan sekadar batas administratif desa.
Menurutnya, Lamakera adalah milik semua yang memiliki darah dan akar Lamakera, baik yang tinggal di dua desa utama, Watobuku dan Motonwutun, maupun yang tersebar di Kupang, Jakarta, Makassar, Yogyakarta, dan daerah lain.
“Identitas Lamakera tidak boleh dipersempit. Kita semua bagian dari Lamakera,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Ahmad Yohan juga mendorong warga Lamakera di perantauan untuk bersama-sama memikirkan program pemberdayaan nyata, sehingga reuni tidak hanya menjadi simbol pertemuan, tetapi juga menghasilkan gagasan dan program yang berdampak bagi masyarakat.
“Dengan adanya program yang konkret, Reuni Lamakera 2026 benar-benar bisa bermartabat dan memberi manfaat nyata bagi warga,” imbuhnya.
Acara silaturahmi yang berlangsung hangat ini dihadiri ratusan warga dan jamaah Masjid Al Multazam.










