“Akses ke Rinca relatif aman karena terlindungi daratan dan pulau-pulau di sekitarnya. Dari Warloka ke Kampung Rinca hanya sekitar tujuh menit, dan ke Loh Buaya sekitar 30 menit hingga satu jam. Ini solusi yang sangat memungkinkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, mayoritas wisatawan mancanegara datang ke Labuan Bajo untuk melihat komodo. Jika akses tersebut tertutup total, maka penerbangan internasional dari Malaysia dan Singapura berpotensi terhenti karena menurunnya minat wisatawan.
“Orang sudah terbang ke Labuan Bajo, tentu mereka tidak mau rugi. Kalau tidak ada kepastian akses, ini bisa jadi preseden buruk bagi pariwisata kita,” ujarnya.
Perlu Duduk Bersama Seluruh Unsur
Rusding menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor, mulai dari Pemerintah Daerah, Pemerintah Provinsi, KSOP, BMKG, Basarnas, TNI AL, Polairud, DPRD, hingga pengelola TNK, untuk merumuskan kebijakan yang solutif dan berbasis keselamatan.
“Kita tidak ingin kecelakaan terulang. Safety adalah yang utama. Tapi pariwisata juga harus tetap hidup. Ini harus diatur bersama,” katanya.
Ia juga mengungkapkan kekhawatiran akan potensi aksi protes dari pelaku wisata akibat tekanan ekonomi yang semakin berat. Meski demikian, ia berharap semua aspirasi disampaikan secara demokratis dan bermartabat.
Usulkan Posko SAR dan Alat Pemantau Cuaca
Ke depan, Rusding mendorong pembentukan posko SAR permanen di kawasan TNK, khususnya di Pulau Padar sebagai titik tengah kawasan wisata, agar penanganan darurat bisa lebih cepat dan efektif.












