
Selama kegiatan, para peserta diperkenalkan pada proses inseminasi buatan, pengamatan mikroskopis semen, pengenceran, serta penyimpanan sebelum didistribusikan ke betina.
Para peternak juga berkesempatan praktik langsung bersama mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Undana.
“Harapan kami, peternak di Sikumana bisa mandiri menghasilkan dan memanfaatkan semen unggul, sehingga tak lagi bergantung pada kawin alami,” tambahnya.
Kawin Suntik “IB” Kadang Gagal, Tapi Kami Tetap Bayar
Salah satu warga peserta pelatihan, Merciana, mengaku selama ini metode kawin suntik yang digunakan di kelompoknya sering kali tidak berhasil. Namun, para peternak tetap harus membayar biaya meski babi betina gagal bunting.
“Kami biasanya pakai cara suntik, tapi kadang gagal. Mau jadi atau tidak, tetap kami bayar,” ujar Merciana dengan nada jujur.
Ia menilai pelatihan yang diberikan dosen Undana sangat membantu peternak memahami penyebab kegagalan selama ini, sekaligus memberikan harapan baru agar usaha ternak mereka lebih berhasil.












