Semua program tersebut bertujuan membuka akses pasar bagi UMKM lokal dan memperkuat identitas ekonomi NTT.
“Kami ingin produk lokal kita bukan hanya tumbuh secara kualitas, tetapi juga bersaing di pasar modern. Pemuda Katolik harus ambil bagian dalam transformasi ini,” tambah Johni.
Ia juga mengingatkan agar hasil Rakerda tidak hanya berakhir di dokumen, melainkan diwujudkan dalam program nyata di setiap kabupaten/kota.
“Bayangkan kalau di tiap daerah ada satu usaha kader Pemuda Katolik berbasis potensi lokal. Maka organisasi ini akan jadi motor penggerak ekonomi NTT,” katanya.
Wagub Johni juga mengapresiasi semangat kolaborasi lintas iman yang diusung Pemuda Katolik sebagai bagian dari memperkuat persatuan bangsa.
Pemuda Katolik Harus Berjejaring dan Relevan
Ketua Umum Pemuda Katolik Indonesia, Stefanus Asat Gusma, dalam sambutannya menyebut NTT sebagai “etalase politik Kristiani” yang memiliki posisi strategis dalam peta nasional.
Ia menegaskan pentingnya membangun klaster potensi kader berdasarkan profesi dan wilayah agar peran organisasi makin terasa di masyarakat.
“Kekuatan kita adalah kolaborasi. Kita harus berjejaring secara aktif, lintas sektor, dan lintas profesi,” tegas Gusma.












