
Selain kegiatan bersama anak-anak, perhatian juga diberikan kepada para lansia dan ibu-ibu di posko pengungsian.
Di Posko 2 Nangahale, Bunda PAUD NTT mendengarkan secara langsung ungkapan hati dan cerita para ibu serta lansia yang berada di lokasi pengungsian.
Interaksi tersebut menjadi ruang bagi para penyintas untuk menyampaikan pengalaman, keresahan, maupun kebutuhan mereka setelah menghadapi bencana.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak semata-mata berbicara tentang bantuan logistik.
Dukungan emosional, pendampingan psikologis, pendidikan anak, serta ruang untuk didengar juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut turut dilaksanakan psikososial dan trauma healing oleh tim psikolog.
Anak-anak juga mendapatkan kegiatan literasi serta berbagai permainan edukatif yang dirancang untuk menciptakan suasana positif di tengah kehidupan mereka di posko.
Kegiatan belajar, bermain, dan literasi menjadi penting karena anak-anak penyintas gempa membutuhkan ruang untuk kembali menjalani aktivitas yang mendekati kehidupan normal.
Di tengah kondisi pengungsian, kehadiran orang dewasa yang memberikan perhatian, mengajak bermain, dan mendengarkan cerita mereka dapat menjadi bentuk dukungan yang berarti.
Bagi masyarakat yang masih bertahan di posko, bantuan tentu tetap dibutuhkan. Namun, kehadiran langsung untuk mendengar dan menemani para penyintas juga memberikan pesan bahwa mereka tidak menghadapi masa sulit tersebut sendirian.












