Suasana pertemuan pun berlangsung penuh kekeluargaan. Tidak ada jarak yang terlalu lebar antara tamu dan anak-anak penghuni wisma. Percakapan, sapaan dan interaksi berlangsung dalam suasana yang cair.
Bagi anak-anak yang rata-rata masih berada pada rentang usia 15 hingga 17 tahun, perhatian seperti itu memiliki arti tersendiri.
Mereka masih berada dalam fase usia muda, sebuah masa ketika seseorang sedang mencari jati diri, membangun kepercayaan diri dan menentukan arah masa depan.
Karena itu, kunjungan tersebut tidak hanya dimaksudkan sebagai bentuk perhatian, tetapi juga menjadi ruang untuk memberikan semangat.
Asti Laka Lena hadir dengan sejumlah pesan penguatan. Ia mengajak anak-anak untuk tidak melihat masa lalu sebagai akhir dari perjalanan hidup.
Sebaliknya, masa pembinaan harus dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, menggali potensi dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat.
“Kalian Tidak Sendirian”
Salah satu pesan penting yang dibawa dalam kunjungan tersebut adalah bahwa anak-anak di LPKA bukanlah kelompok yang dilupakan.
Mereka tetap bagian dari masyarakat
Pemerintah hadir. Organisasi masyarakat hadir. Dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan perhatian.












