KUPANG | BuletinNTT.com – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-38 Koperasi Kredit (Kopdit) Swasti Sari menjadi momentum refleksi mendalam atas perjalanan panjang.
Koperasi ini lahir dari semangat kebersamaan, hingga kini tumbuh menjadi salah satu koperasi kredit terbesar di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan diperhitungkan di tingkat nasional.
Ketua Pengurus Kopdit Swasti Sari, Lambertus Ara Tukan, menegaskan bahwa peringatan HUT ke-38 bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang syukur untuk mengenang sejarah, menghormati jasa para pendiri, serta meneguhkan kembali jati diri koperasi sebagai rumah bersama anggota.
“Usia 38 tahun adalah usia yang mulia. Kita bersyukur karena Kopdit Swasti Sari masih berdiri kokoh dan terus bertumbuh berkat semangat kebersamaan para pendiri dan seluruh anggota,” ujar Lambertus dalam sambutannya pada perayaan HUT ke-38 di Kupang.
Dirintis 12 Pendiri dengan Modal Minim
Lambertus mengajak seluruh anggota untuk menengok kembali sejarah awal berdirinya Kopdit Swasti Sari pada 1 Februari 1988.
Koperasi ini dirintis oleh 12 orang pendiri yang dengan keberanian dan ketulusan membangun lembaga berbasis kepercayaan dan solidaritas.
Kedua belas pendiri tersebut adalah Suster Carolie Hartati, CB, Frans Nuka, Xaveriana Maru, Cosmas Lau, Helena Djoka Wonga, Anna Bulen, Theresia Gololodo, Dolorosa Bunga Pareira, Yosef Lau, Balthazar Seran Nahak, Pius Purab, dan Osmundus Korohama.












