Pada masa itu, sejumlah orang dari kelas elite mempraktekkan gaya hidup hedonis tanpa peduli keadaan masyarakatnya. Amos menggambarkan dengan ungkapan yang Sarkas: orang-orang itu berbaring di ranjang gading; bersantap dengan domba dan lembu terbaik; bernyanyi dengan kecapi; minum anggur di piala besar seperti bokor; berlumur minyak harum.
Hedonism jaman itu berlebihan. Mereka asyik dengan kesenangan dan kenikmatan pribadi. Tapi, dalam ungkapan Amos mereka tidak berduka “karena hancurnya keturunan Yusuf!” (Amos. 6:6).
Hedonisme di kalangan elite dalam masyarakat Israel kala itu benar-benar membuat mereka tidak peduli akan ketidakadilan, kemerosotan moral serta penderitaan yang sedang dialami oleh rakyat biasa. Keruntuhan moral ini telah mengakibatkan kehancuran Israel dan pembuangan Israel diawali dengan invasi raja Asyur ke Samaria sebagai ibu kota Kerajaan Israel Utara (722SM.).
Bagi Amos, hedonism dalam praktek hidup kaum elite Israel adalah penghinaan terhadap Allah Yahwe sendiri.
Akhirnya refleksi kita menyentuh Iman dan kepedulian pada hidup sebagai benang merah yang menghubungkan nubuat Amos 6:1a. 4-7; 1 Timotius, 6:11-16 dan Injil Lukas 16: 19-31.
Iman sejati semestinya membuat kita peduli dan merasa terusik untuk bergerak keluar dari kenyamanan dan berjuang untuk menghadirkan wajah Allah yang adil dan penuh kasih dalam hidup bersama.












