Kepedulian yang diajarkan oleh Yesus, diterjemahkan Paulus dalam nasihatnya kepada Timotius untuk mengejar keadilan, mengupayakan kesalehan, iman, kasih, ketekunan, dan kelembutan dalam hidup agar hidup menjadi seperti sebuah pertandingan iman (1Tim. 6:11-12).
Dalam pertandingan itu setiap orang berjuang untuk melawan kelemahan dalam diri: egoisme, keserakahan, dan rasa tidak peduli.
Dengan cara itu pula Paulus mengajak kita untuk menjadi “manusia Allah”, yakni pribadi yang hidupnya mencerminkan nilai Kerajaan Allah: keadilan, kasih dan damai Sejahtera.
Bagi Paulus, Iman dan keadilan adalah dua sisi dari satu panggilan yang sama. Iman tanpa keadilan hanyalah topeng rohani; sebaliknya perjuangan keadilan tanpa iman mudah membuat orang tersesat pada kekerasan.
Seorang yang mengaku beriman adalah juga seorang yang mengupayakan keadilan dalam hidup bersama. Tapi tentu sajak perjuangan keadilan lahir pertama dari kepedulian yang lahir dari pengalaman dipedulikan oleh Allah.
Hanya orang-orang yang sungguh-sungguh peduli, yang akan rela memberi hati untuk perjuangan keadilan bagi hidup bersama.
Kitab Amos 6:1-7, dengan tajam mengeritik ketenteraman palsu yang dipraktekan oleh sejumlah elite Masyarakat Israel di jamannya. Saat kitab amos ditulis (pada masa pemerintahan Raja Yerobeam sekitar tahun 787-747 SM), Israel sedang menikmati kemakmuran dan stabilitas ekonomi dan politik.












