Dosa si kaya bukan karena ia memiliki harta. Tapi dosa si kaya adalah, karena ia tidak peduli. Ia melihat, tetapi menutup mata; ia tahu, tetapi hatinya tertutup.
Sehingga ia tidak berbuat apa-apa. Perilaku Si kaya menggambarkan iman yang mati: iman yang tidak melahirkan kepedulian dan kasih pada sesama.
Memilih untuk peduli semestinya membuat hati kita tidak pernah nyaman melihat ketidakadilan yang melahirkan penderitaan. Hati seorang beriman, selalu terusik oleh derita sesama.
Rasa terusik itu terjadi karena ia menyatukan hatinya, dengan hati Allah yang selalu berpihak kepada yang lemah.
Kita tidak bisa mengakui diri sebagai orang beriman, lalu duduk tenang ketika ada sesama seperti Lazarus di jaman modern yang berada di sekitar kita.
Lazarus bisa hadir hari ini dalam rupa anak-anak muda pengangguran, para pekerja kecil yang haknya terabaikan, anak-anak terlantar tanpa masa depan, korban perdagangan manusia, para korban kekerasan, korban perang dan pengsungsi, ibu-ibu rumah tangga yang terjerat Pinjol dan koperasi harian yang mencekik, atau orang-orang sakit dan Lansia yang dibiarkan sendirian, dll.
Banyak orang seperti ini ada di sekitar kita. Peduli pada kehidupan dan penderitaan mereka adalah bentuk keterlibatan kita dengan kepedulian Allah sendiri. Bahkan Yesus sendiri mempersonifikasikan diri-Nya dengan mereka. “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk aku” (Mat. 25: 40)












