Saat ini, pihak Hapkindo telah mengajukan surat izin kepada rektor universitas Sutomo agar dojang tersebut dapat menjadi bagian dari unit kegiatan kemahasiswaan (UKM).
Langkah ini dinilai penting untuk mendukung keberlanjutan pembinaan atlet, sekaligus meringankan beban biaya latihan yang selama ini mencapai Rp150 ribu per sesi.
“Respon dari pihak kampus sangat positif. Mereka senang karena atlet-atlet ini berprestasi dan bisa membawa nama baik universitas,” ungkap Agus.

Lebih lanjut, Agus menegaskan bahwa atlet-atlet asal Atambua yang kini berlatih di Surabaya tetap berstatus sebagai warga NTT, sehingga nantinya tetap akan memperkuat daerah dalam ajang PON.
Ia juga menyoroti potensi besar atlet Hapkido di beberapa daerah seperti Belu, Sumba Timur, dan Timor Tengah Utara (TTU), yang terus dikembangkan untuk memperkuat kontingen NTT di masa depan.
Dengan pembinaan berkelanjutan, peningkatan jam terbang, serta dukungan berbagai pihak, Sekretaris Hapkindo NTT, yang juga Ketua MMA – IBCA NTT, Agus Nahak, optimistis mampu mencetak prestasi gemilang dan membawa pulang medali emas pada PON 2028.












