Filemon mengungkapkan bahwa Master Niko, yang ditugaskan PBTI memantau kejuaraan Grade B tersebut, memberikan rekomendasi agar atlet Dojang Lourdez mengikuti latihan bersama Pelatnas.
“Ada rekomendasi dari Master Niko. Kalau atlet kami memenuhi syarat, mereka dipersilakan mengikuti latihan bersama Pelatnas. Namun biaya makan dan penginapan harus ditanggung sendiri,” katanya.
Ia menjelaskan, pihak PBTI juga menyarankan agar Dojang Lourdez lebih sering mengikuti kejuaraan Grade B dibanding Grade C.
“Kalau Grade C memang bisa diikuti, tetapi tidak ada pemantauan dari PBTI. Karena itu kami disarankan lebih banyak mengikuti Grade B supaya atlet-atlet kami bisa terus dipantau,” tambahnya.

Semua Berawal dari Gotong Royong
Di balik keberhasilan tersebut tersimpan perjuangan panjang. Biaya keberangkatan puluhan atlet ke Semarang sebagian besar berasal dari hasil gotong royong.
Menurut Filemon, bantuan memang datang dari Ketua Pengcab Taekwondo Kota Kupang dan Bank NTT, namun ada juga dari orang tua dan dana yang disimpan, selama mengikuti kejuaraan di NTT.
“Kami bersyukur mendapat bantuan dari Ketua Pengcab dan Bank NTT. Sisanya kami kumpulkan dari hasil juara umum di berbagai kejuaraan di NTT, kegiatan penggalangan dana, dan tentu dukungan luar biasa dari orang tua atlet,” ungkapnya.
Belajar dari Sistem Pertandingan Nasional
Selain membawa pulang prestasi, Dojang Lourdez juga memperoleh pengalaman berharga mengenai sistem pertandingan modern.












