Pandangan serupa disampaikan politisi Partai Demokrat, Bonifasius Jebarus. Ia menilai ruang dan peran politisi asal NTT di tingkat nasional maupun daerah semakin mengalami degradasi sehingga diperlukan kaderisasi yang serius.
“Gereja Katolik perlu kembali membuka ruang pendidikan politik agar kaum muda Katolik memiliki kesempatan belajar, bertumbuh, dan terlibat aktif dalam menentukan arah kebijakan publik,” katanya.
Di sela-sela diskusi, Romo Leo Mali kembali menegaskan luasnya ruang keterlibatan kerasulan awam dalam kehidupan sosial, mulai dari bidang Gereja, keluarga, pendidikan kaum muda, lingkungan sosial, ekonomi, hingga politik.
Ia mengutip dokumen Apostolicam Actuositatem artikel 13 yang menegaskan bahwa keterlibatan sosial-politik merupakan tugas khas kaum awam yang tidak dapat digantikan oleh kaum tertahbis.
“Sejak Gereja perdana, kaum awam telah mengambil bagian penting dalam pewartaan Injil, sebagaimana terlihat dalam pelayanan Priskila dan Akwila bersama Paulus,” jelasnya.
Menutup kegiatan ramah tamah tersebut, Mgr. Hironimus Pakaenoni kembali menekankan pentingnya sinergi antara kaum klerus dan awam untuk menghadirkan keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat sesuai ajaran sosial Gereja.












