“Saat ini hampir semua kabupaten di NTT sudah terisi dokter anestesi, kecuali Sabu Raijua dan Lembata. Idealnya satu kabupaten memiliki minimal dua dokter anestesi,” ungkap dr. Frans.
Ia mengenang kondisi awal dirinya bertugas di NTT pada tahun 2000, saat hanya ada satu dokter anestesi untuk seluruh provinsi.
“Itu sangat berat. Jangan sampai kondisi seperti itu terulang lagi. Karena itu kami berjuang agar pendidikan spesialis ini bisa berdiri di NTT,” tegasnya.
Menurutnya, seluruh anggota Perdatin NTT siap mendukung proses pendidikan, dengan komitmen bahwa lulusan nantinya mengabdi di NTT.
“Kami sepakat, residen yang masuk dan lulus harus mengabdi di NTT. Terutama di daerah-daerah yang masih kekurangan,” katanya.
Dari pihak fakultas, Dekan FKKH Undana, Dr. dr. Christina Olly Lada, M.Gizi (M.Kes), menyampaikan bahwa secara jumlah dosen tetap, kebutuhan minimal untuk kedua program studi telah dipenuhi.
“Untuk anestesi ada dua dosen tetap dan obstetri ginekologi ada tiga dosen tetap. Kebutuhan minimal lima dosen per prodi akan diperkuat dengan dokter-dokter mitra,” jelasnya.
FKKH Undana juga menjalin kerja sama dengan fakultas kedokteran mitra, yakni FK Universitas Udayana (Unud) untuk anestesi dan FK Universitas Airlangga (Unair) untuk obstetri dan ginekologi, yang akan mendampingi pelaksanaan pendidikan.












