Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Visitasi Kementerian, Langkah Akhir Undana Buka Program Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Avatar photo
×

Visitasi Kementerian, Langkah Akhir Undana Buka Program Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Sebarkan artikel ini
Reporter: Ben |  Editor: Redaksi

Ia menegaskan, pendirian program spesialis anestesi mensyaratkan adanya dokter spesialis anestesi yang berstatus dosen tetap di Undana. Karena itu, dukungan pimpinan universitas dan fakultas sangat dibutuhkan.

Meski demikian, dr. Reza mengapresiasi kuatnya kerja sama antara Undana dan rumah sakit pendidikan yang dinilai sudah berjalan baik.

Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertising!

“Kerja sama universitas dan rumah sakit sangat erat. Kebutuhan peserta didik selama pendidikan klinik sudah disiapkan dengan baik,” ujarnya.

Lebih jauh, dr. Reza menekankan bahwa pendirian program spesialis ini memiliki misi besar untuk menjawab kekurangan dokter spesialis, khususnya di wilayah Indonesia Timur.

Baca Juga :  Aturan Baru Masuk SD Tahun 2026, Anak Usia 6 Tahun Sudah Bisa Daftar

“Dokter-dokter anestesi yang nantinya lulus diharapkan dapat ditempatkan di berbagai daerah yang selama ini kekurangan tenaga spesialis. Yang paling diuntungkan tentu adalah masyarakat,” tegasnya.

Terkait dukungan pemerintah, dr. Reza memastikan Kemendiktisaintek dan Kementerian Kesehatan akan memberikan dukungan, termasuk peluang beasiswa pendidikan spesialis.

“Dari sisi dokumen tidak ada masalah berarti. Yang perlu diperkuat adalah SDM, dan itu akan kita dorong melalui dukungan lintas kementerian,” tambahnya.

Sementara itu, mantan Ketua Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif (Perdatin) NTT, dr. Frans Homalessy, Sp.An-TI, FCC, menegaskan bahwa pendirian PPDS Anestesi di Undana merupakan kebutuhan mendesak bagi NTT.