
Dalam kegiatan tersebut para siswa juga diminta mengisi kuesioner berisi sejumlah pertanyaan terkait kondisi psikologis mereka. Vera berharap seluruh siswa dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan jujur karena tidak ada jawaban benar atau salah.
“Pertanyaan itu hanya untuk melihat kondisi diri kita. Tidak ada jawaban benar atau salah. Karena itu kami berharap semua siswa menjawab dengan jujur agar bisa mendapatkan gambaran kondisi mental mereka,” ujarnya.
Ia juga menyinggung penggunaan media sosial yang saat ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para remaja. Vera mengingatkan agar para siswa menggunakan teknologi secara bijak agar tidak berdampak negatif terhadap kesehatan mental.
Menurutnya, pemerintah juga telah mengeluarkan aturan terkait pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.
“Kami berharap anak-anak yang sudah lebih dewasa bisa menjadi agen informasi bagi adik-adiknya di rumah bahwa penggunaan media sosial harus bijak”.
“Jangan sampai sejak bangun tidur sampai malam hari hanya fokus pada HP dan media sosial,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 5 Kota Kupang, Veronika Wawo, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan skrining kesehatan mental di sekolah yang dipimpinnya.
Ia menilai kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi para siswa kelas XII yang saat ini sedang menghadapi berbagai tekanan, baik dari sisi akademik maupun persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya.
“Kami sangat berterima kasih kepada TP PKK Provinsi NTT, Dinas Kesehatan NTT, dan Puskesmas Oepoi yang telah melaksanakan kegiatan ini di SMAN 5 Kupang.
” Ini merupakan perhatian yang sangat baik bagi perkembangan anak-anak kami,” ujarnya.












