Menurutnya, pendidikan dalam situasi darurat tidak hanya tentang kegiatan belajar mengajar, tetapi juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk bermain, berekspresi dan membangun kembali rasa percaya diri.
Kegiatan Sekolah Ceria juga menjadi ruang interaksi bagi anak-anak yang aktivitas belajarnya ikut terganggu akibat bencana.
Selain di Sikka, Dompet Dhuafa sebelumnya menggelar kegiatan serupa di SDI Kaburea, Desa Tendakinde, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Rabu (26/8/2026).
Sebanyak 75 anak mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri dari 40 anak laki-laki dan 35 anak perempuan.
Di sana, anak-anak diajak menggambar dan mewarnai secara bebas. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan permainan bola kecil bersama.
Bagi anak-anak, menggambar, bermain bola atau sekadar tertawa bersama mungkin terlihat sebagai aktivitas sederhana.
Namun, di tengah suasana pasca gempa dan kehidupan di pengungsian, kesempatan tersebut menjadi ruang penting bagi mereka untuk kembali merasakan keceriaan, berinteraksi dengan teman dan tetap memiliki semangat untuk belajar.
Melalui Sekolah Ceria, Forum TBM dan Dompet Dhuafa berupaya menjaga agar anak-anak penyintas gempa tidak kehilangan ruang untuk belajar dan bermain selama proses pemulihan berlangsung.












