KUPANG | BuletinNTT.com – Peristiwa yang melibatkan seorang anak usia 10 tahun, siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, menjadi pukulan berat bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kejadian tersebut memantik keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan, termasuk Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) NTT, Polikarpus Do.
Polikarpus menyebut peristiwa itu sebagai refleksi bersama bahwa ekosistem pendidikan di NTT belum sepenuhnya dibangun sebagai gerakan kolektif yang melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
“Ini kesedihan kita bersama. Kejadian ini adalah kesalahan kita semua karena kita belum menjadikan ekosistem pendidikan sebagai gerakan bersama,” tegasnya.
Menurutnya, tumbuh kembang anak tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah. Keluarga dan lingkungan sosial memiliki peran yang sama penting dalam menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, dan mendukung.
Hadirkan Ruang Literasi di Tengah Masyarakat
Ia menekankan pentingnya menghadirkan ruang-ruang literasi di tengah masyarakat agar anak-anak NTT dapat bertumbuh menjadi generasi yang literat dan berdaya saing.
“Kita ingin anak-anak NTT bertumbuh menjadi benih-benih literasi yang subur untuk masa depan. Mimpi besar kita adalah menghadirkan generasi emas yang literat dan siap menyambut masa depan Indonesia dan NTT,” ujarnya.












