Sebanyak 81 pegawai Perumda Air Minum Kota Kupang telah membangun sumur resapan di rumah masing-masing. Selain itu, sistem resapan air hujan juga telah diterapkan pada sejumlah sumur bor yang dikelola Perumda.
Menurut Isodorus, langkah ini menandai perubahan paradigma dalam pengelolaan air. Perumda tidak hanya berfokus pada pengambilan dan pendistribusian air, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan menanam kembali sumber air.
“Selain kita mengambil air dan menjual air, jangan lupa kita juga harus tanam air dan simpan air. Kalau ini kita lakukan bersama-sama, maka stok air di Kota Kupang akan tetap terjaga,” jelasnya.
Peluncuran program BERGETAR mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas literasi.
Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) NTT, Polikarpus Do, menyatakan kesiapan pihaknya untuk ikut menyosialisasikan gerakan tanam air kepada jaringan FTBM hingga ke tingkat komunitas dan rumah tangga.
“Kami siap mendukung penuh program BERGETAR. FTBM NTT akan ikut bergerak, mensosialisasikan kepada seluruh FTBM agar rumah-rumah dan komunitas ikut menanam air. Ini gerakan kecil, tapi dampaknya besar untuk masa depan,” ungkap Polikarpus.
Perumda Air Minum Kota Kupang juga membuka ruang kolaborasi dengan Pemerintah Kota Kupang, komunitas, serta berbagai mitra peduli lingkungan agar program BERGETAR dapat menjangkau lebih luas dan berkelanjutan.












