Menurutnya, kekuatan utama NTT justru terletak pada identitas lokal, produk komunitas, serta potensi ekonomi masyarakat desa yang tidak dimiliki oleh jaringan retail besar.
“Retail modern tidak memiliki kekuatan pada identitas lokal dan produk komunitas. Di sinilah peluang NTT Mart untuk berkembang,” jelasnya.
Ia menilai konsep tiga kaki yang menjadi dasar gagasan NTT Mart, yakni One Village One Product (OVOP), One School One Product (OSOP), dan One Community One Product (OCOP), merupakan strategi yang tepat untuk menggerakkan ekonomi masyarakat dari berbagai sektor.
Dengan konsep tersebut, NTT Mart dapat menjadi wadah pemasaran bagi berbagai produk unggulan dari desa, sekolah, maupun pelaku UMKM di daerah.
Karena itu, ia menegaskan bahwa posisi strategis NTT Mart sebaiknya tidak diarahkan menjadi minimarket seperti jaringan retail nasional, melainkan sebagai retail ekonomi rakyat yang berbasis pada kekuatan produk lokal.
“NTT Mart seharusnya menjadi rumah bagi produk-produk hasil konsep tiga kaki itu”.
“Jadi bukan sekadar tempat belanja seperti minimarket, tetapi menjadi pusat distribusi produk ekonomi rakyat,” tegasnya.
Made Supadi Optimis jika dikelola dengan konsep yang tepat, NTT Mart dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal sekaligus memperkuat ekosistem pemasaran bagi produk desa, sekolah, dan UMKM di Nusa Tenggara Timur.










