“Dalam kondisi darurat, orang cenderung panik. Jika tidak pernah berlatih, situasi bisa menjadi kacau. Dengan praktik langsung seperti ini, pegawai tahu jalur evakuasi, tahu titik kumpul, dan tahu prioritas penyelamatan,” jelas Robertus.
Ia juga mengapresiasi konsistensi PLN dalam melibatkan BPBD pada setiap agenda mitigasi risiko. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor sangat penting, terutama di wilayah rawan gempa seperti Flores yang berada di jalur cincin api (ring of fire).
Sementara itu, General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Nusa Tenggara Timur, F. Eko Sulistyono, menekankan bahwa budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) harus menjadi identitas kerja, bukan sekadar slogan.
“Melalui simulasi ini, kami menguji kesiapan personel sekaligus memperkuat budaya K3 di lingkungan kerja. Keselamatan jiwa adalah prioritas tertinggi. Budaya K3 harus melekat dalam setiap aktivitas agar tercipta lingkungan kerja yang aman, andal, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Simulasi ini sekaligus menutup rangkaian peringatan Bulan K3 Nasional 2026 di wilayah Labuan Bajo.












