Kandidat Pemimpin Inklusif dan Berdedikasi
Di tengah dinamika pemilihan Rektor Undana yang mulai menghangat, figur Prof. Apris tampil sebagai sosok alternatif yang visioner dan inklusif.
Pengalamannya yang panjang di lapangan, 2 periode sebagai dekan FKM Undana, ditambah dengan pendekatan kolaboratif dalam membangun riset dan jejaring akademik, menjadikan ia dianggap memiliki kapasitas dan integritas untuk membawa Undana ke jenjang lebih tinggi.
Menurut sejumlah sumber internal kampus yang tak ingin disebutkan namanya, Prof. Apris adalah tipikal pemimpin yang “mendengar sebelum bertindak”.
Gaya kepemimpinannya yang partisipatif dianggap cocok untuk membangun kultur akademik yang sehat dan progresif, terutama di tengah tantangan globalisasi pendidikan tinggi.
“Beliau tidak hanya bicara, tapi sudah membuktikan lewat karya dan pengabdiannya. Kami melihat Prof. Apris bukan hanya akademisi, tapi juga pembelajar dan pembimbing yang sabar,” ujar salah satu dosen di FKM Undana.
Membawa Energi Baru untuk Undana
Jika dipercaya memimpin Undana lima tahun ke depan, Prof. Apris bertekad mendorong kolaborasi riset lintas disiplin, memperluas jaringan internasional, serta memperkuat kualitas lulusan Undana agar mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar lokalnya.
Ia juga menekankan pentingnya inovasi dalam tata kelola kampus, peningkatan anggaran riset, serta membangun sistem pendampingan karir bagi dosen muda.
“Rektor bukan sekadar jabatan administratif, tapi agen perubahan akademik. Tugas kita adalah membangun ekosistem ilmiah yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan,” ungkap Prof. Apris.
Dengan latar belakang yang kuat di bidang kesehatan masyarakat, riset molekuler, serta pengalaman panjang di Undana dari bawah, Prof. Dr. Apris A. Adu muncul sebagai simbol meritokrasi di kampus terbesar di NTT ini.
Ia bukan hanya mewakili suara akademisi, tapi juga harapan banyak civitas Undana untuk perubahan yang lebih substansial.












