JAKARTA: BuletinNTT.com – Di tengah pesatnya kemajuan teknologi digital, negara-negara maju seperti Inggris dan Swedia justru kembali menekankan pentingnya buku cetak dan tulisan tangan dalam dunia pendidikan.
Kebijakan ini bukan tanpa alasan, melainkan berdasarkan temuan ilmiah terbaru di bidang neurologi dan pendidikan anak.
Profesor Rhenald Kasali, guru besar dari Universitas Indonesia, mengungkapkan hal menarik saat mengunjungi Inggris.
Ia mengatakan bahwa sekarang, di sejumlah sekolah dasar di sana, anak-anak diwajibkan menulis tangan setiap hari sebagai bagian dari proses pembelajaran dan refleksi diri.
“Saya tanya ke neuroscientist di sana, kenapa kembali ke tulisan tangan? Mereka bilang, ini karena anak yang menulis tangan lebih cerdas dibanding yang terlalu cepat masuk ke dunia digital,” kata Prof. Rhenald.
Mengapa Tulisan Tangan Kembali Diutamakan?
Penelitian menunjukkan bahwa menulis tangan memberikan berbagai manfaat penting bagi perkembangan anak:
Meningkatkan Kecerdasan dan Daya Ingat
Menulis tangan membantu otak memproses informasi lebih dalam, memperkuat ingatan, serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan analitis.
Mengasah Motorik Halus Anak
Gerakan saat menulis membantu melatih koordinasi mata-tangan dan otot-otot kecil di jari dan pergelangan tangan.
Mendukung Perkembangan Literasi
Anak yang menulis tangan cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap ejaan, tata bahasa, dan struktur kalimat.
Melatih Disiplin dan Refleksi Diri
Dengan menulis tangan, anak-anak belajar untuk menuangkan pikiran secara terstruktur dan reflektif—hal yang penting untuk membangun karakter dan kesadaran diri.
Teknologi Perlu, Tapi Jangan Lupakan Dasar
Meski teknologi tetap dibutuhkan dalam dunia pendidikan, para ahli di Inggris dan Swedia sepakat bahwa keseimbangan adalah kunci. Anak tetap perlu dikenalkan teknologi, tapi harus dibarengi dengan keterampilan dasar seperti membaca buku cetak dan menulis tangan.
Pelajaran untuk Indonesia
Kondisi ini menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan di Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Timur. Apakah kita terlalu cepat mendorong anak-anak ke layar gadget dan melupakan dasar-dasar penting pendidikan?












