Ia menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun ia aktif menggerakkan anak-anak di desa-desa melalui penyediaan bahan bacaan bermutu, permainan edukatif, serta kegiatan pembinaan literasi.
“Sejak 2009 saya senang menggerakkan anak-anak untuk menumbuhkan budaya literasi. Saat berkunjung ke desa-desa, saya selalu membawa buku-buku bacaan yang bermutu, permainan edukasi, dan bahan pembelajaran untuk anak-anak,” ujar Asty.

Ia menambahkan bahwa kini ia bekerja bersama Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) NTT yang dipimpin oleh Polikarpus Do untuk memperkuat budaya literasi di seluruh wilayah.
Dorong Hadirnya TBM di Desa
Asty menegaskan bahwa gerakan literasi harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, khususnya anak-anak di desa dan kelurahan.
Arah program Bunda Literasi NTT mencakup:
mengembangkan TBM di desa, kelurahan, PAUD, dan posyandu, menghadirkan bahan bacaan berkualitas, memperkuat literasi keluarga sebagai fondasi utama, dan membentuk ekosistem literasi yang terintegrasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
“Kami berkomitmen membudayakan literasi mulai dari keluarga. Kami ingin memperkuat ekosistem literasi keluarga, sekolah, dan masyarakat agar anak-anak NTT dapat tumbuh cerdas dan percaya diri,” tegas Asty.
Ajak Masyarakat Bergerak Bersama
Dalam penutup pernyataannya, Asty mengajak seluruh pihak untuk terlibat aktif dalam gerakan literasi.












