Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Berawal dari Cerita Sore, SD–PAUD Komodo Inerie Kini Jadi Harapan Pendidikan Anak Pinggiran Kupang

Avatar photo
×

Berawal dari Cerita Sore, SD–PAUD Komodo Inerie Kini Jadi Harapan Pendidikan Anak Pinggiran Kupang

Sebarkan artikel ini
Reporter: Ben |  Editor: Redaksi
Salah Satu Ruangan Kelas SD Komodo Inerie

Mayoritas siswa berasal dari keluarga prasejahtera, seperti pedagang sayur, nelayan, sopir, dan buruh harian.

Kelompok Belajar di Matani

Permintaan serupa juga datang dari orang tua di wilayah Matani, Kabupaten Kupang. Pada tahun 2021, pihak sekolah membuka layanan pendidikan kelompok belajar dengan memanfaatkan kandang ayam yang direnovasi secara gotong royong menjadi ruang kelas darurat.

Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertising!

“Kalau hujan bocor, dinding berlubang, tapi orang tua tetap menerima karena anak-anak bisa sekolah dekat rumah,” kata Yustina.

Baca Juga :  Launching Buku “Asa dan Rasa”, Rudi Rohi: NTT Bangun dari Minus, Butuh Kolaborasi

Hingga kini, kelompok belajar di Matani masih berinduk pada SD Komodo Inerie Bimoku sambil menunggu proses perizinan.

Guru Mengabdi dengan Gaji Minim

Saat ini, SD dan PAUD Komodo Inerie didukung sekitar 20 tenaga pendidik dan pegawai. Namun kesejahteraan guru masih sangat terbatas.

“Dulu gaji guru hanya Rp100 ribu sampai Rp200 ribu. Sekarang sekitar Rp400 ribu, itu pun belum sampai Rp1 juta,” ungkapnya.

Dengan iuran sekolah hanya Rp25.000–Rp35.000 per bulan, banyak orang tua menunggak pembayaran hingga bertahun-tahun.

Baca Juga :  PKBM Lurumutin Malaka Dorong Literasi Desa demi Wujudkan Generasi Emas 2045

Bahkan puluhan ijazah siswa belum diambil karena keterbatasan ekonomi.

Harapan Dukungan Pemerintah

Pendiri SD Komodo Inerie, Drs. Ambros Pan, M.Pd., menyampaikan bahwa sekolah ini lahir sebagai respons kebutuhan masyarakat dan hingga kini terus berjuang memenuhi sarana prasarana pendidikan yang layak.