
Mayoritas siswa berasal dari keluarga prasejahtera, seperti pedagang sayur, nelayan, sopir, dan buruh harian.
Kelompok Belajar di Matani
Permintaan serupa juga datang dari orang tua di wilayah Matani, Kabupaten Kupang. Pada tahun 2021, pihak sekolah membuka layanan pendidikan kelompok belajar dengan memanfaatkan kandang ayam yang direnovasi secara gotong royong menjadi ruang kelas darurat.
“Kalau hujan bocor, dinding berlubang, tapi orang tua tetap menerima karena anak-anak bisa sekolah dekat rumah,” kata Yustina.
Hingga kini, kelompok belajar di Matani masih berinduk pada SD Komodo Inerie Bimoku sambil menunggu proses perizinan.
Guru Mengabdi dengan Gaji Minim
Saat ini, SD dan PAUD Komodo Inerie didukung sekitar 20 tenaga pendidik dan pegawai. Namun kesejahteraan guru masih sangat terbatas.
“Dulu gaji guru hanya Rp100 ribu sampai Rp200 ribu. Sekarang sekitar Rp400 ribu, itu pun belum sampai Rp1 juta,” ungkapnya.
Dengan iuran sekolah hanya Rp25.000–Rp35.000 per bulan, banyak orang tua menunggak pembayaran hingga bertahun-tahun.
Bahkan puluhan ijazah siswa belum diambil karena keterbatasan ekonomi.
Harapan Dukungan Pemerintah
Pendiri SD Komodo Inerie, Drs. Ambros Pan, M.Pd., menyampaikan bahwa sekolah ini lahir sebagai respons kebutuhan masyarakat dan hingga kini terus berjuang memenuhi sarana prasarana pendidikan yang layak.












